{"id":5343,"date":"2023-11-24T11:54:14","date_gmt":"2023-11-24T11:54:14","guid":{"rendered":"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikel?p=5343"},"modified":"2023-11-24T11:54:19","modified_gmt":"2023-11-24T11:54:19","slug":"5-motif-batik-yang-dipercaya-membawa-rejeki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/edukasi\/5-motif-batik-yang-dipercaya-membawa-rejeki\/","title":{"rendered":"5 Motif Batik yang Dipercaya Membawa Rejeki"},"content":{"rendered":"\n<p>Batik adalah seni tradisional membuat kain yang dihasilkan melalui proses pewarnaan kain dengan menggunakan lilin untuk menahan warna pada bagian-bagian tertentu, sehingga menciptakan pola atau motif khas.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi, tahukah kamu? Ada beberapa motif batik dipercaya sebagai pembawa rejeki dan keberuntungan. Bahkan motif-motif batik ini selalu digunakan untuk upacara pernikahan atau upacara adat di kerajaan Majapahit pada abad 12-14.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut 5 motif batik yang dianggap membawa rejeki atau dihubungkan dengan simbol keberuntungan:<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"gb-headline gb-headline-bd7f209e gb-headline-text\">1.<strong>Batik Motif Ceplok Grompol<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Motif Ceplok Grompol merupakan motif batik seperti telur ceplok dengan kombinasi simbol bintang yang selalu dipercaya masyarakat pulau Jawa sebagai simbol keberuntungan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"gb-headline gb-headline-e2ac56fb gb-headline-text\">2.<strong>Motif Tangkawang Ampiek<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Motif batik ini berasal dari Kalimantan dengan motif tumbuhan khas Kalimantan. Motif sering kali dianggap sebagai representasi dari kehidupan yang berlimpah dan harmonis dengan alam.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"gb-headline gb-headline-79943208 gb-headline-text\">3. Motif Truntum<\/h2>\n\n\n\n<p>Motif <a href=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikeledukasi\/batik-truntum\/\" title=\"batik truntum\">batik truntum<\/a> melambangkan kasih sayang, keharmonisan, dan persatuan. Motif ini sering dipilih untuk pakaian pernikahan sebagai simbol kebahagiaan dan kesuksesan dalam sebuah hubungan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"gb-headline gb-headline-bbc5b00d gb-headline-text\">4.<strong>Motif Gedhong Kembang Waluh<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Motif batik ini sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit pada abad 12-14. Biasanya motif Gedhong Kembang Waluh digunakan sebagai selendang dalam upacara pernikahan. Karena motif ini dipercaya bisa membawa rejeki dan keberuntungan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"gb-headline gb-headline-ba5369db gb-headline-text\">5. <strong>Motif Banji<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"480\" src=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikelwp-content\/uploads\/2023\/11\/Motif-Banji.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5344\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Motif-Banji.jpg 640w, https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Motif-Banji-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Sumber : Pinterest<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Motif ini berasal dari Jawa Barat yang diadaptasi dari budaya India, fakta menariknya kata &#8220;banji&#8221; sendiri merupakan kata dari bahasa Cina &#8220;Banzi&#8221; yang berarti sepuluh ribu. <\/p>\n\n\n\n<p>Motif Banji menurut masyarakat Jawa Barat selalu dikaitkan dengan makna kekayaan. Sehingga sering digunakan untuk upacara pernikahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tingkatkan penampilan Anda dengan sentuhan klasik <a href=\"https:\/\/katalog.batikprabuseno.com\/\" title=\"batik Parbuseno\">batik Parbuseno<\/a>. Segera miliki koleksi kami!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batik adalah seni tradisional membuat kain yang dihasilkan melalui proses pewarnaan kain dengan menggunakan lilin<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":5345,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[105],"tags":[],"class_list":["post-5343","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-50"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5343","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5343"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5343\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5346,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5343\/revisions\/5346"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5345"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}