{"id":5412,"date":"2023-11-30T12:16:13","date_gmt":"2023-11-30T12:16:13","guid":{"rendered":"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikel?p=5412"},"modified":"2023-11-30T12:16:18","modified_gmt":"2023-11-30T12:16:18","slug":"mengenal-5-motif-batik-yang-hanya-dipakai-keluarga-kerajaan-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/edukasi\/mengenal-5-motif-batik-yang-hanya-dipakai-keluarga-kerajaan-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Mengenal 5 Motif Batik yang Hanya Dipakai Keluarga Kerajaan di Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p>Batik Indonesia memiliki hubungan erat dengan pengaruh kerajaan di masa lalu. Kain batik bukan hanya sekadar busana atau kain, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan kultural yang mendalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kain batik sendiri sering kali diidentifikasi sebagai lambang status sosial dan kebangsawanan. Anggota keluarga kerajaan sering memakai batik pada acara-acara penting dan sebagai bagian dari pakaian resmi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ada beberapa motif batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan saja atau disebut Batik Keraton. Batik Keraton memang memiliki motif batik tersendiri yang diciptakan khusus untuk dipakai oleh para raja serta bangsawan pada zaman kerajaan. <\/p>\n\n\n\n<p>Nah, berikut adalah 5 motif batik yang hanya digunakan oleh keluarga kerajaan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">5 Motif Batik yang Hanya Dipakai Keluarga Kerajaan<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"gb-headline gb-headline-778ea054 gb-headline-text\">1.Batik Wirasat &#8211; Yogyakarta<\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikeledukasi\/batik-wirasat\/\" title=\"Batik Wirasat\">Batik Wirasat<\/a> memiliki arti dalam bahasa Jawa yang berarti warisan. Batik wirasat juga diartikan sebagai berkah dari Tuhan, maka dari itu dilambangkan dengan cahaya yang terdapat dalam motif bunga. <\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, motif batik ini melambangkan harapan dan keyakinan akan arti sebuah kehidupan. Bagi pengguna Batik Wirasat diharapkan memiliki kekuatan hati yang baik dalam mengambil keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p>Batik Wirasat hanya boleh dipakai orang-orang dari kalangan kerajaan dan bangsawan Yogyakarta atau Jawa.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2.Batik Parang- Yogyakarta<\/h3>\n\n\n\n<p>Awal mula terbentuknya Batik Parang ketika Panembahan Senopati menelusuri pinggir tebing pegunungan untuk bertapa, di saat itu Panembahan Senopati mendapat ilham membuat motif batik yang disebut &#8220;Batik Parang&#8221; karena terlihat seperti pereng atau disebut juga tebing berbaris. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"602\" height=\"401\" src=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikelwp-content\/uploads\/2023\/11\/Sri-Sultan-edited-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5416\" style=\"width:576px;height:auto\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Sri-Sultan-edited-1.jpg 602w, https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Sri-Sultan-edited-1-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Sri Sultan Hamengkubuwono X saat menyambut Presiden Jokowi sumber: Okezone<br><\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Motif ini memiliki makna keberanian dan ketegaran, motif ini juga menggambarkan bahwa penggunanya memiliki semangat tak terpatahkan dan jiwa mulia yang dapat mengendalikan hawa nafsu dunia dalam kehidupan sehari-hari. <\/p>\n\n\n\n<p>Oleh sebab itu, motif ini khusus untuk digunakan keluarga kerajaan dan bangsawan. Termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono X\u00a0yang sering menggunakan motif batik parang untuk menghadiri acara-acara penting.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"gb-headline gb-headline-d191701d gb-headline-text\"><strong>3. Batik Singayaksa- Banten<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Motif Singayaksa berasal dari nama daerah Singayaksa, yaitu nama sebuah tempat dimana Sultan Hasanuddin biasa melakukan salat Istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah dalam mendirikan keraton.<\/p>\n\n\n\n<p>Motif ini melambangkan harapan untuk mendapatkan petunjuk menjalankan kehidupan dengan baik dari Allah.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"gb-headline gb-headline-dadcf376 gb-headline-text\"><strong>4. Batik Srimanganti &#8211; Banten<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Motif Srimanganti berasal dari nama aula Istana sebagai tempat tamu kerajaan menunggu, sebelum Sultan menyambut mereka. Kata \u2018sri\u2019 berarti \u2018raja\u2019, sedangkan \u2018manganti\u2019 berarti \u2018menanti\u2019. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"224\" src=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikelwp-content\/uploads\/2023\/11\/batik-bantenf.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5414\" title=\"\"><\/figure>\n\n\n\n<p>Motif ini melambangkan sebuah kesempatan yang besar, menuju masa depan yang gemilang atau cerah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>5. Enggang Dayak &#8211; Kalimantan Tengah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Burung Enggang\u00a0digunakan sebagai simbol kebesaran dan kemuliaan\u00a0suku\u00a0Dayak. Serta motif burung Enggang melambangkan pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Suku Dayak Kalimantan sendiri sangat dekat dengan burung enggang. Suku Dayak percaya bahwa burung enggang merupakan panglima semua jenis burung. Ia dianggap memiliki kekuatan supernatural dan dianggap sakral. <\/p>\n\n\n\n<p>Maka dari itu, hanya orang-orang tertentu yang boleh menggunakan motif Batik Enggang<\/p>\n\n\n\n<p>Nah itulah beberapa motif Batik yang hanya dipakai keluarga kerajaan di Indonesia, Ingin memiliki pakaian motif batik? Yuk, kunjungi\u00a0<a href=\"https:\/\/katalog.batikprabuseno.com\/\">katalog Prabuseno<\/a>\u00a0dan miliki koleksi batik terbarunya!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batik Indonesia memiliki hubungan erat dengan pengaruh kerajaan di masa lalu. Kain batik bukan hanya<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":5417,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[105],"tags":[],"class_list":["post-5412","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-50"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5412","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5412"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5412\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5418,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5412\/revisions\/5418"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5417"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}