{"id":5606,"date":"2024-01-17T16:44:26","date_gmt":"2024-01-17T16:44:26","guid":{"rendered":"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikel?p=5606"},"modified":"2024-01-17T16:44:44","modified_gmt":"2024-01-17T16:44:44","slug":"menjelaskan-makna-batik-nitik-salah-satu-batik-khas-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/edukasi\/menjelaskan-makna-batik-nitik-salah-satu-batik-khas-yogyakarta\/","title":{"rendered":"Menjelaskan Makna Batik Nitik, Salah Satu Batik Khas Yogyakarta"},"content":{"rendered":"\n<p>Batik tidak pernah lepas dari kota Yogyakarta, namun apakah kalian tahu ada salah satu batik tertua di Yogyakarta yang sudah ada sejak awal terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta?<\/p>\n\n\n\n<p>Batik Nitik merupakan salah satu <a href=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikeledukasi\/ragam-motif-batik-keraton-yogyakarta\/\" title=\"batik keraton Yogyakarta\">batik keraton Yogyakarta<\/a> yang terkenal hingga mancanegara dengan keindahan yang dimiliki. Walaupun berasal dari Yogyakarta batik nitik juga berkembang di daerah Jawa lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel kali ini akan menjelaskan sejarah Batik Nitik dan makna yang terkandung di dalam motif batiknya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sejarah Kain Batik Tulis Nitik<\/h2>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1600-an Belanda memonopoli perdagangan kain patola dari India. Maka dari itu harga kain Patola naik hingga 2 kali lipat, masyarakat pun tidak mampu membelinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 1700-an pengerajin batik perempuan di Kembangsono, Bantul, Yogyakarta akhirnya membuat kain sendiri dengan motif Batik Nitik yang terinspirasi dari kain patola. <\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat pun lebih memilih Batik Nitik ketimbang kain patola yang harganya sangat mahal. Selain lebih murah, kualitas kainnya pun tak kalah bagus dengan motif yang indah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"435\" src=\"https:\/\/batikprabuseno.com\/artikelwp-content\/uploads\/2024\/01\/Batik-Motif-Nitik-Kembang-Jeruk.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5608\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Batik-Motif-Nitik-Kembang-Jeruk.jpg 600w, https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Batik-Motif-Nitik-Kembang-Jeruk-300x218.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"gb-headline gb-headline-6bec427b gb-headline-text\">Makna dan Motif Kain Batik Tulis Nitik<\/h2>\n\n\n\n<p>Batik Nitik berasal dari kata &#8220;titik&#8221;. Walaupun termotivasi dari kain patola, motif titik pada kain Batik Nitik memiliki makna yang mendalam yaitu menyiratkan hubungan manusia dengan Tuhannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun di dominasi dengan titik-titik tetapi motifnya juga didominasi ragam hias ceplokan yang disusun rapi sehingga membuat pola geometris yang indah.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti segi empat, balok-balok kecil dan juga garis harus yang dipadukan dengan titik-tik. Selain itu terdapat juga motif tanaman seperti bunga, daun, atau sulur-sulur. Yang didominasi warna gelap.<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga saat ini terdapat 79 motif batik dan 5 motif dasar Batik Nitik khas Bantul, Yogyakarta. Pada masa kesultanan HB VII, Batik Nitik merupakan batik yang digunakan orang-orang yang ada di dalam keraton.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, untuk saat ini masyarakat di luar keraton Yogyakarta boleh menggunakan Batik Nitik. Nah, bagi Anda yang ingin memiliki pakaian motif batik? Yuk, kunjungi\u00a0<a href=\"https:\/\/katalog.batikprabuseno.com\/\">katalog Prabuseno<\/a>\u00a0dan miliki koleksi batik terbarunya!<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batik tidak pernah lepas dari kota Yogyakarta, namun apakah kalian tahu ada salah satu batik<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":5609,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[105],"tags":[],"class_list":["post-5606","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-50"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5606"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5606\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5610,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5606\/revisions\/5610"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5609"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5606"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.batikprabuseno.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}